
Pesta demokrasi terbesar di Indonesia, sebentar lagi akan digelar. Para calon legislatif maupun eksekutif berlomba-lomba menunjukkan eksistensi diri, bahwa merekalah calon wakil rakyatyang pantas menjadi pimpinan. Terkadang terpikir, apakah harus menggunakan cara seperti itu untuk menjadi pemimpin rakyat di negeri ini ? Tidak adakah cara yang lain, yang lebih baik dan tidak membuang banyak biaya ? Tentunya ada cara yang lain jika kita mau.
Praktik politik dengan kampanye besar-besaran di Indonesia menyedot biaya yang cukup besar. Menurut Ketua Umum Partai Matahari Bangsa, Imam Addaruqutni kampanye yang harus dikeluarkan caleg dari partai kecil dan menengah adalah sekitar Rp 400 juta . Sementara caleg dari partai besar dapat menghabiskan hingga lebih dari Rp1 miliar . Jumlah yang cukup besar untuk membuat hal yang lebih bermanfaat untuk rakyat, daripada digunakan untuk proses pemilihan wakil rakyat. Itupun tidak menjamin wakil rakyat yang terpilih bisa menjalankan aspirasi rakyat dengan baik. Dalam kenyataannya justru digunakan sebagai ajang untuk merebut kekuasaan. Wajar jika selama kampanye mereka telah mengeluarkan banyak biaya dan menutup lubang pengeluaran tersebut dengan pendapatan yang akan didapat saat berkuasa. Terlebih kondisi masyarakat Indonesia yang belum memahami profil wakil rakyat. Masih banyak anggapan dari rakyat, bahwa siapapun calon yang memberikan imbalan, maka rakyat akan memprioritaskannya. Paradigma rakyat menyatakan bahwa suara mereka hanya dibutuhkan untuk mendapatkan kekuasaan. Sebagai imbalan yang pantas, maka siapa yang memberi uang lebih, maka merekalah yang akan diprioritaskan. Hal ini menjadi peluang besar bagi calon wakil rakyat yang memiliki aset yang cukup besar. Dan lebih bahayanya lagi, jika mereka memiliki kepentingan yang tidak pro rakyat.
Dengan sistem yang ada, masyarakat menilai bahwa untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki uang yang cukup besar. Paradigma ini secara tidak langsung akan menggeser anggapan bahwa seharusnya seorang yang pantas menjadi pemimpin adalah orang yang memang memiliki kapasitas yang cukup untuk membawa perubahan yang lebih baik di negeri ini. Paradigma tersebut menciptakan kondisi leadership bias. Artinya, kondisi ini akan dapat mengarahkan pada pemimpin yang salah. Bukan karena kapasitas sebagai seorang pemimpin, akan tetapi justru yang memiliki uanglah yang akan berkuasa.
Di sini, yang menjadi titik tekan adalah sistem yang berlaku. Sistem yang ada, akan mereduksi kesempatan kecil bagi para calon wakil rakyat yang memiliki kapasitas sebagai seorang pemimpin. Hanya karena kendala kurang populer di kalangan masyarakat, maka potensi kepemimpinan yang lebih baik tertunda. Justru memberikan kesempatan kepada orang dengan popularitas yang tinggi tanpa memperhatikan latar belakang dari calon wakil rakyat.
Indonesia seharusnya mencoba untuk melihat pesta demokrasi yang dilakukan di negara lain. Ambillah, negara di Skandinavia seperti Swedia. Pemilu disana memberikan aturan bahwa dana kampanye dibatasi pada jumlah tertentu. Jika melebihi batas yang telah ditetapkan, maka calon bisa terkena diskualifikasi. Tujuannya adalah agar calon wakil rakyat berlomba-lomba mengeluarkan dana seefektif mungkin dan saling mengawasi antara calon satu dengan yang lain. Kebijakan ini banyak memberikan dampak cukup positif bagi kehidupan politiknya. Misalnya, masyarakat akan teredukasi bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang diprioritaskan adalah karena kapasitasnya sebagai pemimpin, bukan materinya.
Pemilu yang sebentar lagi diadakan, tentunya diharapkan bisa mengeluarkan hasil yang cukup memuaskan. Terlepas dari sistem yang sudah diterapkan. Indonesia masih harus banyak belajar dalam banyak hal. Wajar sebagai sebuah negara yang sedang berkembang, dinamisasi untuk menerapkan sistem yang lebih baik masih dalam pencarian. Semakin cepat akan semakin baik. Karena rakyat negeri ini, sudah cukup lama menunggu kebangkitan negaranya. Padahal, banyak yang menafsirkan bahwa Indonesia akan berpeluang untuk menjadi pemimpin di Asia. Tentunya, hal tersebut tidak menjadi angan-angan saja. Akan tetapi menjadi sebuah realita yang bisa diwujudkan dengan usaha keras bersama. Termasuk sistem demokrasi yang ada. Sistem hanyalah alat bukan tujuan, sehingga bisa dirubah. Sistem yang tepat, akan bisa menghasilkan perubahan yang lebih baik dan sebaliknya. Tentunya, harapan itu masih ada untuk membawa perubahan di negeri ini. Dengan satu tujuan, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Oleh: Tri Mukhlison Anugrah (Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Ekonomi )
Kamis, 04 Juni 2009
Pelajaran dari Praktik Politik Mahal
Label: Ecopapers Edisi 39, Opini
Diposting oleh EcopOnline di 13.56 0 komentar
“Hijau”

Isu-isu “hijau” telah menarik perhatian banyak orang beberapa waktu belakang ini. Virusnya menyeruak ke berbagai dimensi ruang diskusi. Mulai dari tataran politik hingga musik dalam negeri.Namun entah mulai dari kapan virus itu menjangkit inangnya. Yang jelas, beberapa isu terakhir dihiasi oleh isu “hijau” ini. Isu ini menjangkit pemilihan presiden AS, merebak ketika menjelang pemilihan dan kemudian mereda setelah terpilihnya Barack Obama. Agresi Israel atas palestina pun di hinggapi virus “hijau”. Beberapa kalangan yang mewakilkan kaum “hijau” menggalang dana untuk mencoba mengurangi penderitaan warga pelestina. Terakhir adalah grup band dalam negeri (Hijau Daun), yang berlabelkan “hijau”mendapatkan platinum 3 dengan penjualan 3000 CD/ tiga bulan.
Demikian seksinya isu ini, kampus biru pun sepertinya sudah terinfeksi virus isu “hijau”. Atau bahkan kampus kita sudah tak terlihat “hijau”nya lagi. Anda yang bisa menjawabnya. Terlebih setelah pembangunan terjadi dimana-mana di kampus ini. Ada jalan sepeda namun ada juga penambahan biskuning yang suka kentut karbon monoksida. Apakah pembangunan kita sudah sesuai dengan tema “Go Green” nya. Silakan baca dulu tulisan ecopapers ini sebelum menjawabnya. Semoga kualitas mahasiswa UI terus maju terlebih dengan adanya “corong” seleksi mahasiswa baru yang bernama SIMAK-UI.
Selamat membaca!
Dari Redaksi
Label: Dari Redaksi Ecopapers 39
Diposting oleh EcopOnline di 13.56 0 komentar
Eksistensi Pasar Tradisional di Tengah Gempuran Pasar Modern

Fenomena maraknya pembangunan pasar modern menggambarkan menggeliatnya investasi di Indonesia, khususnya di bidang retail. Banyaknya tenaga kerja yang terserap membuat pembangunan sektor ini menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkanpertumbuhan ekonomi nasional. Eksistensi pasar modern di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Menurut data yang diperoleh dari Euromonitor (2004), hypermarket merupakan retail dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 25%, yang diikuti oleh bentuk lainnya seperti korporasi (14.2%), minimarket (12.5%), independent grocers (8.5%), dan supermarket (3.5%).
Namun, pertumbuhan pada pasar modern memberikan dampak negatif bagi pasar tradisional. Berdasarkan survey AC Nielsen (2006) tampak bahwa pangsa pasar dari pasar modern meningkat sebesar 11.8% selama lima tahun terakhir. Pangsa pasar naik menjadi 36.6% tahun 2006 (sejak 2001). Sementara dari data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, pada tahun 2008 sebanyak 4.707 pasar tradisional (sekitar 35% dari total pasar tradisional di Indonesia) ditinggalkan pedagang. Muncul pertanyaan, ”Akan ke mana pedagang pasar tradisional dan pemasoknya beralih?”
Keterbatasan Pasar Tradisional
Pasar tradisional sendiri memiliki karakter dasar yang sulit diubah. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir pasar, optimalisasi tata ruang, kualitas barang, serta jam operasional pasar yang terbatas menjadi kelemahan terbesar pasar tradisional dalam menghadapi pasar modern. Ketika konsumen menuntut value added atas setiap uang yang dibelanjakannya, maka realita kondisi pasar pasar tradisional yang kotor, kumuh, dan bau, serta jam operasional yang relatif terbatas tidak mampu mengakomodasi hal ini.
Keterbatasan lain yang dimiliki pasar tradisional adalah citra negatif masyarakat terhadap pasar tradisional. Maraknya informasi produk mengandung zat kimia berbahaya, penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan lain dalam aktifitas perdagangan telah meruntuhkan kepercayaan konsumen. Ini diperburuk dengan ketiadaan manajemen kualitas produk pasar tradisional.
Satu keunggulan pasar tradisional yang masih mungkin menjadi daya saingnya adalah lokasi. Masyarakat cenderung lebih suka berbelanja ke pasar yang lokasinya lebih dekat. Akan tetapi, dengan pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan modern, inovasi pun dilakukan dengan memburu lokasi-lokasi potensial sehingga keunggulan karena faktor lokasi juga terancam hilang.
Campur Tangan yang Dilakukan Pemerintah
Untuk mengakomodasi permasalahan ini, dua kebijakan pemerintah telah dikeluarkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Peraturan Presiden No.112 tahun 2007 disusul terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No.53 tahun 2008 menunjukkan perhatian serius dari pemerintah. Dalam kedua kebijakan tersebut terdapat beberapa hal penting untuk dicermati, (1) Perizinan, Pembangunan kedua jenis pasar dikelola pemerintah daerah dengan memperhatikan unsur-unsur terkait, salah satunya keberadaan pasar tradisional. (2) Lokasi, Hypermarket dan sejenisnya hanya boleh berlokasi pada akses sistem jaringan kolektor primer atau arteri sekunder dan tidak boleh berada pada kawasan pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota/perkotaan. (3) Pemberdayaan Usaha Masyarakat, pusat perbelanjaan wajib menyediakan lokasi untuk usaha kecil dengan harga jual dimanfaatkan oleh usaha kecil dalam rangka kemitraan. (4) Pemasokan Barang, pemasokan barang dilakukan sesuai kesepakatan antara perusahaan ritail dengan supplier dengan tetap memberdayakan UMKM.
Sayangnya kondisi ideal yang seharusnya terwujud berkat regulasi pemerintah ini tidak selalu berjalan seperti diharapkan. Selain semakin banyak pusat perbelanjaan yang berlokasi dalam perkotaan, kerjasama dengan pemasok yang tidak sesuai dengan peraturan juga merupakan masalah klasik yang belum terselesaikan dengan optimal. Usaha sinergis antara pemerintah, pedagang pasar, pemasok dan masyarakat menjadi kunci untuk tetap memberdayakan pasar tradisional dan mempertahankan iklim usaha yang bersaing. Selain itu, upaya mandiri yang dapat dilakukan pasar tradisional, seperti manajemen yang baik, pengelolaan yang bersih dan tertib serta mengutamakan kenyamanan berbelanja dapat menjadi salah satu modal dalam menghadapi ’gempuran’ pasar modern.
Oleh Tim Kajian BOE
Label: Ecopapers Edisi 40, Kajian
Diposting oleh EcopOnline di 13.53 0 komentar
Sate “BENTO”
Teringat dengan lagu legendaris Iwan Fals atau makanan khas Jepang? Sayangnya yang bisa ditemukan di rumah makan ini cuma makanan khas Indonesia dengan potongan daging yang ditusuk kayu dan dilumuri bumbu kacang. Yup, sate!!
“Warung Sate Bento” bisa menjadi alternatif untuk para pecinta kuliner. Selain tempatnya yang mudah diakses karena terletak di Jalan H.Ahmad, Kukusan Teknik, Depok, harga yang dipatok untuk makanannya pun cukup terjangkau bagi kantong mahasiswa. Tak hanya menjual sate ayam dan kambing, menu makanan lain yang ditawarkan adalah tongseng ayam dan kambing, juga sop ayam dan kambing. Sepiring nasi dengan satu porsi sate atau tongseng atau sop dipatok dengan harga Rp.10.000. Namun, besarnya ukuran sate dan rasa bumbu kacang yang ‘nendang’ abis dijamin tidak mengecewakan. Rasanya mau nambah dan nambah lagi.
Jika kesulitan memilih antara sate, tongseng, dan sop, atau jika ingin mencoba semua menunya, pembeli dapat memilih paket kombinasi yang ditawarkan. Seperti membeli paket hemat yang berisi nasi dengan tongseng ½ porsi, ditambah sate ayam atau kambing ½ porsi. Semua itu dapat dinikmati harga dengan Rp. 10.000 per-porsi. .
Warung sate Bento tidak hanya mengunggulkan rasa makanan tetapi juga pelayanan kepada konsumennya. Cukup dengan menghubungi nomor (021) 32875953, pesanan akan diantarkan ke tempat tujuan. Jadi, layanan ini tentu memudahkan ketika ada acara-acara di kampus karena tidak perlu repot-repot datang dan mengambil makanan. Warung yang dimiliki oleh mahasiswa fakultas ekonomi UI ini memang sangat concern dengan pelayanan untuk konsumen karena consumer satisfaction adalah segalanya.. Masih banyak lagi kemudahan dan keunggulan yang ditawarkannya. So, what are you waiting for? Datang dan cobalah kelezatan satenya.
Label: Advertorial
Diposting oleh EcopOnline di 13.52 0 komentar
Mengapa Aku Ada Disini?

Aku, di ruang yang hanya ada aku dan orang asing berjas putih yang setiap hari memeriksa kondisiku, seakan aku mengidap penyakit serius. Dia mengatakan padaku bahwa aku pasien barunya. Biarlah, suka-suka dia sajalah ingin berpikiran aku kenapa. Hanya satu hal yang –sejak awal keberadaanku disini—selalu aku pikirkan. Mengapa aku ada disini?
Hah! Mengapa tanggal 9 april kemarin aku tidak bisa mewujudkan mimpi indah, duduk di kursi parlemen? Padahal, segala macam cara sudah aku gunakan. Dari membagi-bagikan sembako, money politic, hingga membuat konser dangdut gratis dengan biduanitanya yang mampu mempertontonkan berbagai macam goyangan. Sepertinya aku salah. Ya, benar, aku memang salah! Harusnya, aku tidak mengemis suara dari golongan yang bodoh dan tidak loyal itu! Mereka hanya bisa menggerogoti uangku! Seharusnya ’aksiku lebih elegan’, seperti berkampanye di depan golongan intelektual. Toh mereka tidak butuh uang untuk memberikan aku sebuah kursi. Karena aku pikir, mereka hanya butuh idealisme. Idealisme yang penuh kemunafikan, yang mereka lakukan tanpa sadar atau mungkin hanya pura-pura tak sadarkan diri.
Berbicara tentang golongan intelektual, aku teringat dengan sebuah universitas yang berada di daerah pemilihanku, yaitu Kota Petir. Sudah bukan rahasia umum lagi jika universitas yang bernama Universitas Seribu Danau itu, dianggap menjadi basis sebuah proses kaderisasi partai politik yang aku usung. Partai politik bernomor urut 008 di pemilu tahun ini. Mengapa dulu aku tak menyadari bahwa mahasiswa di universitas tersebut bisa menjadi ladang suaraku? Ah, mungkin karena waktu itu otak dan pikiranku belum berpindah tempat, dari kepala ke dengkul, seperti sekarang ini. Dulu aku masih menganggap bahwa menjadikan sebuah institusi pendidikan sebagai lumbung politik kotorku adalah haram hukumnya. Tapi mengapa justru sekarang mereka yang secara sengaja mengotorkan diri dengan politik yang seperti aku jalankan?
Setelah aku selidiki, ternyata mereka lebih kotor dari yang aku kira! Mereka menjadikan berbagai organisasi kemahasiswaan mereka sendiri sebagai ’kendaraan’ yang siap digunakan, hanya karena sebuah partai politik yang mereka agung-agungkan membawa idealisme perjuangan berbasiskan salah satu agama yang eksis di kampus tersebut. Salah satu buktinya adalah keberadaan sebuah organisasi jurnalistik kampus bernama “Jabat Tangan”. Indikasi itu aku dapatkan kala berbincang dengan salah satu kader partai yang berada di kota pemilihan yang sama seperti aku. Organisasi jurnalistik yang seharusnya bertindak netral, justru sangat setia menyuarakan serangkaian kampanye terselubung.
Aku jadi teringat dengan cerita temanku yang tidak sengaja mendengar kekisruhan sebuah rapat yang sedang berlangsung di ruang organisasi eksekutif tertinggi di universitas tersebut. Oh iya, kalau tidak salah saat itu berlangsung pertemuan antara para petinggi BEM fakultas dengan petinggi BEM Universitas Seribu Danau. Temanku bercerita, jika tak salah lagi, ada dua orang ketua BEM fakultas, yaitu Ketua BEM Fakultas Oikos Nomos dan Ketua BEM Fakultas Ilmu Hitung dan Ilmu Bumi, sedang ngotot-ngototnya menginginkan adanya semacam demonstrasi. Tapi anehnya, konsep dari demonstrasinya tidak dipaparkan dalam pertemuan tersebut, melainkan ke sebuah divisi yang dinaungi oleh BEM Seribu Danau, yaitu Divisi Discussion Centre and Study of Action. Setelah dipahami maksud dari demonstrasi yang diinginkan, divisi tersebut menolaknya mentah-mentah. Mereka menganggap, demonstrasi yang diinginkan tersebut tidak memiliki tujuan penting dan justru bernuansa politis. Apalagi divisi tersebut sadar bahwa kesengajaan pelencengan tema dari setiap kegiatan demonstrasi sangat dimungkinkan. Apalagi saat itu, kondisi politik luar kampus sedang panas-panasnya dengan kegiatan kampanye terbuka. Dugaan semakin diperkuat dengan kondisi pimpinan tertinggi BEM Universitas Seribu Danau yang dicurigai terkontaminasi oleh iming-iming sebuah partai politik.
Belum lagi mempertimbangkan keberadaan sejenis lembaga pengawas pemilu di Universitas Seribu Danau yang bertugas mempublikasikan tata cara pemilu dan memfilterisasi efek negatif dari pemilu nasional di Unversitas Seribu Danau. Sepintas, lembaga tersebut terlihat sangat baik tujuannya. Pada kenyataannya program-program kerja yang dicanangkannya justru sangat kental dengan pengaruh politik luar kampus. Contohnya, mereka sengaja membuat sebuah program kerja berbentuk penerbitan media yang bertajuk “Politisi Busuk”, yang isinya mencakup track record buruk dari pemimpin-pemimpin yang notabenenya sudah pernah berkuasa. Lalu, apakah media tersebut secara sengaja moncoba mengaitkannya dengan kepentingan dari partai politik yang waktu itu aku usung? Karena faktanya, belum ada satu pun orang dari partai tersebut yang pernah duduk di kursi tertinggi republik ini. Namun, entah pada akhirnya media tersebut jadi diterbitkan atau tidak, aku tak lagi tahu.
Ironis memang, ketika aku sengaja mengunjungi kembali Universitas Seribu Danau. Baru saja aku memasuki area kampus tersebut, aku sudah disuguhkan dengan spanduk-spanduk yang ’sok heroik’ dari beberapa organisasi, forum, dan bahkan pihak humas universitas tersebut. Spanduk-spanduk tersebut berisikan suatu seruan untuk menolak berbagai bentuk aktivitas politik yang sedang merebak saat itu agar tidak masuk ke lingkungan kampus. Salah satu spanduk berisi sebuah larangan untuk perserta kampanye terbuka agar tidak memasuki area kampus. Ada juga yang berisikan tentang delapan poin yang harus diperhatikan dalam menghadapi Pemilu 2009. Belum lagi dengan spanduk sebuah forum mahasiswa yang mengisyaratkan kepada para mahasiswa agar tidak terkontaminasi dengan politik luar kampus. Tapi, entah mengapa aku justru merasakan bahwa semua spanduk-spanduk tersebut bagaikan sebuah topeng menyerupai monyet yang menutupi wajah monyet itu sendiri. Alhasil, dengan atau tanpa topeng tersebut, sang monyet akan tetap seperti monyet. Begitu juga dengan spanduk-spanduk tersebut yang hanya menjadi simbol kemunafikan. Bahwa faktanya, semua hal yang tertulis tersebut justru telah terjadi sejak lama.
Waduh! Ternyata, universitas yang selama ini menjadi kebanggaan Kota Petir tak lagi virgin dari aktivitas-aktivitas politik kotor seperti itu ya? Untung anakku tidak aku paksa kuliah disana. Selain nantinya ia menjadi lebih asyik diracuni oleh hal semacam itu dibandingkan dengan kuliahnya, biaya pendidikan di sana semakin hari semakin mahal! Apalagi anakku ini senang sekali ikut organisasi yang bernafaskan agama. Makin segan saja aku menyuruh anakku untuk mengenyam pendidikan disana. Karena kata temanku yang lainnya, hampir setiap fakultas di Universitas Seribu Danau mempunyai sebuah organisasi keagamaan yang ternyata sudah terpengaruh oleh partai politik. Kalau tidak salah, nama organisasinya adalah “Forum Belajar Agama”. Tuh kan, aku semakin khawatir apa yang aku takutkan terjadi pada anakku akan menjadi nyata andai ia benar-benar kuliah disana!
Ya sudahlah. Kenapa aku jadi berpikiran yang macam-macam? Berpikiran mengapa waktu dulu, sebelum 9 april, aku tidak begini dan begitu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Hahaha! Tak usah berpikiran yang aneh-aneh, Pak Caleg! Jelas-jelas hanya cuma jadi caleg, tidak benar-benar jadi anggota legislatif. Lebih baik berpikir saja yang jelas-jelas dari tadi sedang dipikirkan! Mengapa aku ada disini?
Oleh: Lutfian Iriana
Label: Ecopapers Edisi 40, Igauan
Diposting oleh EcopOnline di 13.48 0 komentar
Pendidikan dan Kemenangan Kaum Neoliberal
Globalisasi telah berhasil mengkonstruksi tatanan dunia yang benar-benar baru, yang menjadikan ruang dan waktu semakin tak relevan. Dunia yang oleh Thomas L. Friedman disebut sebagai ‘dunia yang datar dan tak lagi bulat’. Globalisasi bagaikan kuda hitam yang berlari kencang menerobos rintangan seperti sistem politik, ekonomi, norma, budaya, dan pendidikan. Ketika globalisasi menerobos ‘halangan-halangan’tersebut, pastilah disispi upaya penetrasi ideologi dari negara core state seperti AS dan brain washing pola pikir masyarakat negara berkembang sebagai peripheral state, seperti Indonesia. Proses penetrasi ideologi ini semakin embodied ketika pemerintah sebagai policy maker dan regulator meligitimasi praktik-praktik penetrasi itu.
Salah satu praktik penetrasi ideologi yang mengancam Indonesia adalah neoliberalisme. Neoliberalisme adalah ‘anak kandung’ ideologi kaum libertarian-Smithian yang percaya bahwa free market mechanism adalah jalan terbaik menuju kemakmuran. Kaum neoliberal juga percaya bahwa semakin sedikit peran negara, maka perekonomian negara akan semakin baik sehingga privatisasi, liberalisasi dan deregulasi adalah kebijakan yang niscaya mereka ambil. Terkadang, kaum neoliberal lebih menjadi seorang ideolog daripada ilmuwan. Kepercayaan terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil menjadikan kebijakan tersebut seolah-olah statis dan dogmatis.
Kebijakan Kaum Neoliberal
Dengan dalih daya saing, competitiveness, dan kompetisi global, pemerintah memutuskan keberpihakan ideologinya di sektor pendidikan pada kaum neoliberal. Ini terlihat dari kebijakan pemerintah terkait privatisasi dan liberalisasi pendidikan seperti:
Pertama, Perpres No.76 dan No.77 tahun 2007. Setelah mengesahkan UU No.25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, pemerintah mengesahkan Perpres No.76 tahun 2007 terkait kriteria dan persyaratan bidang usaha tertutup dan terbuka dalam penanaman modal dan Perpres No.77 tahun 2007 mengenai 25 bidang usaha tertutup dan 291 bidang usaha terbuka bagi penanaman modal domestik dan asing. Melalui Perpres itu, pemerintah mengategorikan ‘bidang usaha’ pendidikan, yakni pendidikan dasar, menengah dan tinggi dalam kategori bidang usaha terbuka dengan persyaratan kepemilikan modal luar negeri maksimal 49%.
Perpres ini secara tak langsung mengubah paradigma pendidikan nasional. Pemerintah secara sadar menempatkan pendidikan bukan sebagai kewajiban negara untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan sebagai ‘bidang usaha’ (business oriented). Padahal pendidikan bukan sekedar transfer knowledge and skills dimana peserta didik membayar jasa atasnya. Pendidikan adalah proses transformasi sosial budaya, penanaman nilai-nilai luhur bangsa, semangat cinta tanah air dan pengembangan pelestarian budaya bangsa.
Perpres ini secara radikal mengubah pengelolaan pendidikan nasional. Pertama, sebagai bidang usaha terbuka, pemerintah membagi peranannya dengan pemilik modal domestik serta asing. Artinya, kepemilikan dan pengelolaan pendidikan didasarkan besarnya modal yang diinvestasikan. Kedua, institusi penyedia pendidikan harus berbentuk badan hukum terpisah dari birokrasi pemerintah. Implikasi Perpres ini adalah dibentuknya UU Badan Hukum Pendidikan mengenai pengelolaan usaha pendidikan.
Kedua, UU Badan Hukum Pendidikan. Disahkannya UU BHP menisbatkan posisi pemerintah sebagai penganut kebijakan kaum neoliberal. Dalam UU BHP, ditetapkan pemisahan entitas kekayaan pemilik dan pendiri dalam penyelenggaran pendidikan. Jika pendirinya adalah pemerintah maka kekayaan institusi pendidikan terpisah dari pemerintah. Artinya, jika suatu saat institusi pendidikan yang dibangun pemerintah pailit atau bangkrut, pemerintah tak punya kewajiban menyelamatkannya. Bisa dibayangkan seandainya UI, IPB, ITB dan UGM sebagai BHP pailit, pemerintah dapat ‘lepas tanggung jawab’. Mungkin ekstrim, tapi dapat terjadi dengan mekanisme pendanaan dalam UU BHP. Dalam UU BHP pasal 42 ayat 1 disebutkan bahwa BHP penyelenggara Pendidikan Tinggi dapat melakukan investasi di portofolio (dengan maksimum modal asing 49%). Pendanaan ini rentan terhadap volatilitas keuangan BHP tersebut. Pasal ini juga secara tak langsung menghalalkan pengkomersialisasian aset-aset institusi pendidikan tersebut. Secara keseluruhan, pasal-pasal dalam UU BHP cenderung mendorong privatisasi dan liberalisasi pendidikan secara lebih luas.
Kebijakan pemerintah yang pro-neoliberal ini dipengaruhi pandangan WTO tentang sektor usaha produktif. WTO menempatkan pendidikan sebagai sektor usaha tersier (jasa) yang sangat menguntungkan sebagai komoditas perdagangan. Itulah yang dilakukan oleh AS, Inggris dan Australia yang menikmati profit besar dari sektor jasa pendidikannya. Bahkan, kontribusi sektor jasa pendidikan mereka melebihi kontribusi sektor primernya dalam PDB.Kesuksesan ketiga negara ini kemudian menjadi benchmark Indonesia dalam mengambil kebijakan. Karena itu Indonesia bergabung dengan WTO dan meratifikasi semua perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral menjadi UU No.7 tahun 1994. Dengan diratifikasinya perjanjian ini menjadi Undang-Undang, pemerintah secara konsisten melakukan privatisasi dan liberalisasi secara bertahap di sektor usahanya, termasuk juga pendidikan. Nantinya peran negara semakin berkurang dan para pemilik modal yang menguasai pasar beralih memegang kendalinya. Dan ketika pasar berhasil mengalahkan peran negara, disaat itulah neoliberalisme telah meneguhkan kemenangannya.
Oleh: Muhammad Kholid (Ketua Umum BEM FEUI 2009/Mahasiswa Ilmu Ekonomi 2006)
Label: Ecopapers Edisi 40, Opini
Diposting oleh EcopOnline di 13.39 0 komentar
Negara Tikus
Kisah ini terjadi di dalam sebuah negri yang rakyatnya adalah tikus. Konon negri itu memiliki wilayah yang amat luas, makanan yang berlimpah, rakyatnya makmur dan tentram. Tidak ada satupun keributan yang terjadi dalam negri itu.
Di dalam negri tersebut terdapat seekor tikus laki-laki yang cacat, ia tidak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya, bahkan untuk menggerakkan mulut dan matanya ia harus bersusah payah. Tikus ini tinggal bersama kedua orangtuanya. Pada saat itu orangtua si tikus cacat khawatir, mereka sudah tua dan bingung akan bagaimanakah hidup si tikus cacat nantinya ketika mereka sudah meninggal. Lalu akhirnya mereka berpikir untuk menikahkan anaknya. Siapa tahu istrinya dapat mengurus anak mereka yang cacat total. Kemudian mereka memasang iklan di koran untuk mencari jodoh si tikus cacat ini. Setelah menunggu sekian lama dengan penuh harapan, akhirnya datanglah satu surat balasan iklan biro jodoh. Sayangnya… harapan kedua orangtua si tikus cacat supaya anaknya dapat diurus oleh istrinya nanti sepertinya tidak bias terlaksana, karena surat tersebut berasal dari seorang tikus wanita yang juga cacat total seperti tikus laki-laki tersebut.
Berita tentang kedua tikus cacat yang akan menikah ini tersebar ke seluruh negri tikus. Setiap orang membicarakan mengenai dua tikus cacat yang akan menikah tersebut, bagaimana kedua tikus itu menjalani hidup mereka nantinya. Ada yang berpendapat seharusnya kedua tikus ini menjadi tanggungan negara, ada pula yang berpendapat sebaiknya mereka tidak dinikahkan karena dikhawatirkan akan menghasilkan anak yang cacat pula. Akhirnya berita ini pun tersebar hingga ke parlemen negri tikus karena berita ini begitu fenomenal. Karena parlemen negara tikus tidak memiliki persoalan yang berarti dalam negara yang damai ini maka tikus-tikus dalam parlemen mendiskusikan masalah mengenai kedua tikus cacat. Tikus-tikus yang menduduki parlemen negri tikus beradu pendapat mengenai pernikahan kedua tikus ini, apakah mereka menjadi tanggungan negara atau tidak. Saat itu ada dua pendapat kuat yang muncul dalam rapat dalam parlemen negri tikus. Pejabat tikus yang berasal dari partai koalisi berpendapat bahwa tikus ini sebaiknya ditanggung oleh negara, dari biaya pernikahan mereka, biaya makan, tempat tinggal, sampai pada biaya pemakaman mereka. Namun pejabat tikus dari partai oposisi, bersikeras bahwa sebaiknya kedua tikus ini tidak perlu ditanggung negara karena hanya akan memberatkan negara. Apalagi kalau nantinya kedua tikus ini menghasilkan anak yang sama cacat pula, maka biaya yang ditanggung negara akan semakin berat. Bahkan kalau perlu kedua tikus ini diasingkan saja sampai mati perlahan sehingga beban negara atas mereka hilang. Semakin lama, perdebatan semakin memanas. Tikus-tikus yang ada di parlemen terbagi ke dalam dua kubu, yaitu kubu yang setuju kedua tikus cacat tersebut ditanggung negara dan kubu yang setuju bahwa kedua tikus tersebut lebih baik dibiarkan saja tanpa harus ditanggung negara. Karena tidak bisa memutuskan yang mana dari kedua pendapat ini yang harus diambil, ketua parlemen tikus memutuskan untuk mengambil keputusan dengan cara voting. Setelah anggota parlemen mengadakan voting hasilnya adalah 50 orang setuju bahwa kedua tikus tersebut harus ditanggung oleh negara dan 10 orang setuju kedua tikus tersebut dibiarkan saja. Maka keputusan yang akan diambil oleh parlemen adalah keputusan yang pertama.
Sejak saat itu, kedua tikus cacat tadi menjadi tanggungan negara. Saat mereka menikah biaya pernikahan mereka dibayari oleh negara. Setelah kedua tikus itu menikah, mereka menghabiskan waktunya di dalam rumah yang diberi oleh negara dan diurus oleh pelayan yang disewa negara untuk membantu kedua tikus melakukan aktivitasnya seperti makan, mandi, buang air, dan lain-lain. Intinya seluruh hidup kedua tikus tadi benar-benar ditanggung oleh negara. Memang harus seperti inilah sebuah negara memperlakukan rakyatnya. Namun satu masalah muncul, kedua tikus ini tidak bisa membuat anak sendiri. Mereka berdua adalah tikus yang cacat seluruh badan, jadi bila dipikirkan dengan akal sehat tidak mungkin kedua tikus tersebut bisa membuat anak sendiri. Walaupun mereka tidak bisa membuat anak, kedua tikus itu sangat ingin memiiki anak. Untuk mengakomodasi hasrat tersebut, negara mengambil inisiatif untuk melakukan bayi tabung pada pasangan tikus cacat itu. Biaya pelaksanaan bayi tabung yang sangat mahal itu tentunya ditanggung oleh negara juga.
Setelah pembuatan bayi tabung dilakukan, akhirnya si tikus wanita pun mengandung dan melahirkan seekor bayi tikus yang syukurnya tidak mengikuti kedua orangtuanya, yaitu normal, tidak ada cacat sedikitpun. Kemudian bayi tikus ini diasuh oleh kedua orangtuanya dengan dibantu oleh pelayan yang diberikan oleh negara. Bayi itu pun semakin besar dan semakin kelihatan bahwa ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Anak kedua tikus cacat itu selalu merebut peringkat pertama dalam sekolahnya dan selalu masuk ke sekolah favorit sampai ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke luar negri. Setelah anak tikus itu menyelesaikan pendidikannya di luar negri ia kembali ke negaranya dan bekerja sebagai arsitek yang membantu negara dalam membangun jembatan, jalan raya, rumah sakit, dan lain-lain. Bahkan bangunan-bangunan hasil karyanya terkenal sampai negara lain karena ia menghasilkan bangunan yang memiliki ciri khas, bebas gempa, dan luar biasa indahnya. Secara tak disangka, anak tikus tadi telah membantu negara dalam banyak hal bahkan mengharumkan nama negara dengan karya-karyanya. Berita mengenai anak tikus yang menjadi anak berprestasi meluas dalam negri tikus. Mereka mengagumi usaha pemerintah yang telah memfasilitasi kedua tikus cacat sehingga bisa memiliki anak yang sangat berprestasi.
Berita ini pun sampai ke parlemen negara tikus. Hampir seluruh anggota parlemen memberi selamat kepada pejabat tikus dari partai koalisi yang telah memberikan keputusan yang benar. Hanya satu tikus yang tidak kelihatan, yaitu pejabat tikus dari partai oposisi. Sesaat setelah berita mengenai anak tikus berprestasi itu tersiar ke seluruh negri, ditemukan anggota parlemen yang bunuh diri. Anggota parlemen itu adalah pejabat yang berpendapat bahwa kedua tikus cacat tadi dibiarkan saja mati perlahan yaitu pejabat dari partai oposisi. Ia bunuh diri karena malu telah mengambil keputusan yang menyengsarakan rakyatnya. Memang begitulah seharusnya akhir dari pejabat yang tidak memperdulikan rakyatnya.
Label: Ecopapers Edisi 37, Igauan
Diposting oleh EcopOnline di 13.35 0 komentar
Mengukur Kompetensi Mahasiswa UI Melalui PIMNAS
Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-21 telah berakhir pada tanggal 18 Juli 2008. Kompetisi mahasiswa nasional terakbar tersebut berlangsung selama lima hari. Sebagai pekan lomba mahasiswa tingkat nasional, tidak salah jika PIMNAS menjadi salah satu tolok ukur prestasi dan kompetensi mahasiswa di Indonesia.Peserta yang mengikuti berbagai perlombaan di acara ini akan memperebutkan predikat juara dan medali emas, perak dan perunggu. Universitas yang memperoleh akumulasi medali terbanyak, berhak untuk memboyong piala bergilir Adikarta Kertawidya.
Keinginan UI untuk merebut piala Adikarta Kertawidya tahun ini kembali belum bisa diwujudkan karena UI tidak mampu menjadi juara umum. Walaupun demikian secara keseluruhan UI mampu meningkatkan prestasinya di ajang ini jika dibandingkan dengan PIMNAS tahun lalu. Prestasi UI dalam PIMNAS tahun ini antara lain 1 emas dan dua perunggu dari PKMP, juara 1 KKTM Pendidikan, juara 2 KKTM IPA, juara 2 AKSOSS untuk kategori desktop, juara 3 lomba debat bahasa Arab. Pada PIMNAS XXI di Universitas Negeri Lampung UI hanya meraih satu emas dari PKM, juara 1 Information and Communication Competition, Juara 2 lomba debat debat bahasa Mandarin serta beberapa perunggu. PIMNAS tahun ini, didominasi oleh universitas-universitas yang berasal dari Jawa Timur. Universitas Brawijaya menjadi juara umum dan mematahkan dominasi UGM dan IPB yang menjadi langganan juara dengan perolehan medali sebanyak 4 emas dan 3 perak. Hasil tersebut melengkapi selebrasi Unibraw karena universitas yang bersangkutan akan menjadi tuan rumah PIMNAS XXII pada tahun depan. UGM berada di peringkat 2 dengan 4 emas, 1 perak, dan lima perunggu. Pada peringkat 3, Universitas Negeri Malang meraih 3 emas. Universitas Airlangga berada di peringkat 4 dengan 2 medali emas serta 2 perak. Sedangkan peringkat 5 diraih IPB Bogor dengan 1 emas, 7 perak dan 6 perunggu.
Selama ini yang banyak diperbincangkan adalah minat mahasiswa UI dalam bidang penulisan dan penelitian. Secara personal, dari apa yang saya lihat selama mengikuti PIMNAS XX di UNILA, memang sebagai salah satu kegiatan utama, lomba karya tulis mahasiswa (LKTM) dan pekan kreativitas mahasiswa (PKM) merupakan lomba yang mempunyai gengsi paling tinggi daripada lomba-lomba lainnya. Di samping itu, kedua lomba ini merupakan lumbung medali, karena banyaknya medali yang diperebutkan. Namun, selama ini mahasiswa UI belum bisa mendominasi perlombaan tersebut. Banyak pihak yang menduga bahwa kurangnya minat mahasiswa untuk menulis adalah salah satu penyebabnya. Pada PIMNAS tahun lalu, UI hanya mampu meloloskan enam proposal untuk dua kateori lomba yaitu Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) maupun Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM). Hal ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan universitas lain seperti UGM dan IPB. Tahun lalu IPB, meloloskan lima belas proposal untuk kedua kategori lomba tersebut. Berkat keseriusan dalam kedua lomba tersebut pula, pada tahun 2005 dan 2006, IPB berhasil merebut piala Adikarta Kertawidya.
Selama ini hal-hal yang dikeluhkan menyangkut kurangnya publikasi penyelenggaraan PIMNAS di lingkungan UI. Mungkin, bila boleh berargumen bagi sebagian besar mahasiswa UI, PIMNAS merupakan kompetisi kelas dua dan kalah pamor jika dibandingkan dengan kompetisi lain, yang diselenggarakan pihak lain, perusahaan swasta misalnya. Selain itu, beberapa mahasiswa merasa bahwa pihak fakultasnya kurang memfasilitasi keikutsertaan mereka dalam PIMNAS. Dari apa yang saya amati, mungkin fakultas yang paling serius dalam meningkatkan budaya menulis dan penelitian di kalangan mahasiswanya adalah FISIP. Kurangnya fasilitasi tersebut mencakup sulitnya mendapatkan dosen pembimbing, sulitnya mendapatkan dana penelitian sampai pada kurangnya upaya untuk memberikan dukungan moral bagi mahasiswa yang tertarik melakukan penulisan dan penelitian. Jika dibandingkan dengan IPB misalnya, perguruan tinggi tersebut memberikan insentif yang menarik bagi mahasiswanya. Bagi mahasiswa yang meraih juara Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, dimana topik penelitiannya relevan dengan bidang studi mahasiswa yang bersangkutan, maka mahasiswa tersebut akan dianggap telah menyelesaikan skripsinya. Bagi mahasiswa yang menjadi juara sampai tingkat regional, dianggap lulus tiga SKS dengan nilai A. Terlebih lagi UI mempunyai tujuan untuk menjadi universitas riset pada tahun 2010, maka budaya menulis dan penelitian harus digalakkan.
Dengan upaya membudayakan ketertarikan untuk menulis dan melakukan penelitian, bukan berarti kegiatan mahasiswa di bidang lain menjadi prioritas kedua. Dukungan finansial dan non finansial yang cukup tentu harus diperhatikan oleh pihak rektorat. Mansyur Ridho (Sosiologi 2006) mengharapkan keikutsertaan UI di PIMNAS akan menuai kesuksesan dan barokah. Jonathan AP Marpaung (Ilmu Komputer 2006), berharap bahwa UI akan bisa semakin mantap mengembangkan inovasi dan kreatifitas dalam penelitian mahasiswa mengingat budaya penelitian di UI masih sangat minim. Ya, semua keluarga besar UI, mengharapkan agar UI bisa memboyong piala Adikarta Kertawidya di PIMNAS mendatang. (dari berbagai sumber)
Oleh: Muchdlir Zauhariy (Akuntansi FEUI 2006)
Label: Ecopapers Edisi 37, Opini
Diposting oleh EcopOnline di 13.20 0 komentar
Memupuk Kembali Nasionalisme
Dirgahayu Republik Indonesiaku...
Sudah 63 tahun negara ini berdiri, menjadi sebuah bangsa yang besar dan ditandai dengan berkibarnya bendera sang saka merah putih yang gagah dan perwira.
Nasionalisme begitu penting dimiliki seluruh anak bangsa. Mengapa? Tak lain adalah karena akar dari semua loyalitas dan kontribusi terhadap bangsa dan negara adalah nasionalisme. Bagaimana jiwa kita bergetar setiap kali Merah Putih dikibarkan, atau ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dengan khidmat. Atau kebanggaan yang tersirat ketika pagi ini pengibaran Sang Saka Merah Putih dilaksanakan di depan berbagai elemen bangsa dan para duta negara dunia. Dan yang paling membanggakan adalah ketika malam sebelumnya Merah Putih dikibarkan dan Indonesia Raya dinyanyikan di kota Beijing ketika pasangan bulutangkis Hendra Setiawan/Markis Kido merebut medali emas pertama Indonesia.
Kebanggaan-kebanggaan kecil tersebut diharapkan dapat membawa aura semangat dan dukungan terhadap kemajuan bangsa dan negara ini. Dan kebanggaan itu seharusnya mencerminkan tingkat nasionalisme terhadap bangsa ini.
Terkadang ketika kita berbicara tentang nasionalisme, kita cenderung berpikir tentang sesuatu yang begitu usang untuk dikuak, dan sepertinya merupakan hal yang tidak terlalu penting untuk dibahas. Untuk itu penulis bertujuan mengingatkan kembali akan pentingnya nasionalisme tersebut kepada pembaca karena sepertinya sikap negatif yang terjadi pada bangsa ini, seperti korupsi, terorisme dan pencurian kekayaan intelektual negara bersumber dari kurangnya rasa memiliki (sense of belonging) bangsa ini terhadap semua itu, juga kekurangan akan rasa nasionalisme. Hal tersebut harus dibenahi sedini mungkin dan hanya dapat dilakukan dengan memberikan kesadaran akan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.
Realita yang menimpa bangsa ini, terutama generasi muda, karena adanya apatisme terhadap bangsa dan negara. Sedikitnya dukungan kita terhadap negara mengakibatkan pudarnya kepedulian kita terhadap masalah bangsa. Hal tersebut akan menjadi masalah karena sekecil apapun dukungan kita akan memberikan aura yang positif bagi kemajuan bangsa, dan terlepas dari itu kita merupakan aset dan harapan terbesar bangsa ini.
***
Ada cerita menarik di blog yang biasa penulis baca, ada mahasiswa yang sedang kuliah S2 di luar negeri memasang ringtone “Indonesia Raya” untuk SMS masuk di ponselnya. Pada suatu hari, ketika mahasiswa itu sedang naik angkutan umum untuk berangkat kuliah, ponselnya berbunyi dan kebetulan ada orang Indonesia lain di dalam angkutan tersebut. Sewaktu ponsel tersebut berbunyi, orang itu langsung berdiri dan meminta si mahasiswa untuk tidak menghentikan bunyi ringtone-nya. Yang paling membuat penulis terkejut adalah orang itu ikut bernyanyi sambil menghormat layaknya peserta upacara bendera.
Hal tersebut menarik untuk penulis. Bukan atas refleks orang tersebut yang berdiri sembari memberi hormat, tetapi pada hal yang dirasakannya ketika mendengar lagu Indonesia Raya yang lama tak didengarnya. Dan hal tersebut mencerminkan kerinduan yang besar terhadap tanah air.
***
Tidak perlu pergi jauh ke negara lain untuk melihat seberapa besar nasionalisme kita, karena sikap tersebut dapat dipupuk dimanapun dan kapanpun. Hal yang diperlukan adalah kesadaran. Klasiknya, kesadaran akan berbangsa dan bernegara, serta menjadi pribadi sosial yang menghargai hak orang lain. Kita juga harus senantiasa menghargai sejarah dan menjadikannya sebagai hikmah, yang baik perlu ditiru dan dikembangkan sedangkan yang buruk perlu dieliminasi dari perbuatan.
Mudah-mudahan kita sebagai generasi muda, generasi harapan bangsa ini, ke depannya mampu menjadi fajar yang terbit setelah sekian lama gelap membekap jiwa. Menjadi generasi yang tidak hanya pandai mengkritik dan menghujat, tetapi juga mampu memberikan solusi atas dasar dukungan yang sehat terhadap berjalannya pemerintahan di negeri ini.
Oleh: Hadi Purnomo
Read More..
Label: Ecopapers Edisi 37
Diposting oleh EcopOnline di 13.11 0 komentar
Mimpi Sang Loper Koran
Secercah cahaya mentari menembus memasuki jendela rumahku. Pagi ini cerah dan aku bersyukur karenanya. Walaupun hidupku tak secerah pagi ini namun setidaknya sang mentari masih berbaik hati karena ia bersedia memberikan hangatnya di penghujung musim hujan kali ini. Aku tidak mengeluhmeski nanti siang aku harus bermandi peluh di jalanan. Paling tidak, hari ini koran-koranku masih utuh tak basah oleh air hujan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Hari ini hidupku berjalan seperti biasanya. Aku harus bangun pagi-pagi untuk mengambil koran dari agen langgananku. Setelah itu, dengan langkah terburu-buru, akupun pergi ke sekolah dengan sejuta harapan untuk memperbaiki masa depanku. Dan ketika bel pulang sekolah berbunyi, itu adalah pertanda bahwa waktuku untuk merajut mimpi telah selesai. Kini saatnya untuk kembali ke realita dan mencari cara agar aku terus bisa merajut mimpiku setiap hari di sekolah dan mewujudkannya menjadi kenyataan.
Aku bergegas menuju tempatku menjajakan koranku seperti biasanya. Tempat itu konon katanya merupakan universitas terbaik di negeri ini. Orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan disana tentunya adalah orang-orang memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, dan mereka berada di tempat itu untuk dididik menjadi calon-calon pemimpin bangsa berikutnya.
Aku biasa menjajakan koranku di sudut sebuah lorong di kampus tersebut. Melihat mereka berlalu lalang di sekitarku terkadang melambungkan khayalanku. Apakah suatu saat aku bisa menjadi seperti mereka? Menjadi orang-orang yang selalu membawa buku-buku setebal bata sambil memperbincangkan sesuatu yang terkesan cerdas di telingaku namun tak pernah kumengerti maksudnya hingga kini. Ingin rasanya aku menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu menyunggingkan senyum di wajahnya, entah karena merasa puas akan ilmu yang baru saja mereka dapatkan atau hanya sekedar merasa puas karena perut mereka telah terisi penuh di kantin.
Jika aku menceritakan khayalanku tersebut kepada ibuku, ibuku pun hanya tersenyum. Ia berkata bahwa negara kita sedang mengalami kesulitan dan dampak kesulitan itu pun paling berat menimpa kami, kaum marjinal yang terpinggirkan. Ibu lalu menasehatiku untuk tidak terlalu banyak menaruh harapan pada masa depanku. Menurutnya, kehidupan orang-orang seperti kami tidak akan berubah. Miskin, ya akan tetap menjadi miskin selamanya. Lebih baik aku membantu ayahku untuk bekerja membanting tulang demi mencari sesuap nasi bagi ibu dan adik-adikku daripada sibuk memikirkan hal-hal yang tak akan mungkin pernah kucapai. Asal tahu saja, kata ibuku, harga buku-buku setebal bata itu paling tidak setara dengan biaya hidup aku dan keluargaku selama tiga hari. Jadi, untuk apa aku harus mencari uang untuk hal-hal seperti itu, padahal keluargaku masih mengalami kesulitan untuk makan tiga kali sehari.
Namun, aku tidak mau menyerahkan mimpiku begitu saja kepada sang nasib. Aku ingin tetap sekolah, meski biayanya harus kutanggung sendiri dari penghasilanku berjualan koran. Aku tak habis pikir, kenapa biaya pendidikan kian lama kian mahal saja. Padahal, dulu pernah kudengar desas-desus bahwa sekolah akan menjadi gratis. Sekarang, aku memang tak dikenakan biaya sekolah bulanan seperti dulu. Tapi tetap saja aku harus membayar berbagai iuran yang mengatasnamakan uang gedung, biaya buku atau apalah itu.
Tapi sekali lagi, aku tidak pernah mengeluh. Aku senang berjualan koran untuk membiayai sekolahku. Jika sampai sore koranku tak habis terjual, terkadang aku membacanya. Memang, pengetahuanku belum memadai untuk memahami seluruh isi koran tersebut. Tapi paling tidak, aku mengerti bahwa keadaaan negeri ini tidak sesulit yang ibuku bilang. Negeri ini bisa mengucurkan dana bertriliun-triliun untuk membiayai sebuah acara yang konon mereka sebut dengan pesta demokrasi terbesar di negeri ini, yaitu Pemilu. Menurut berita yang kubaca di koran, Pemilu ini merupakan suatu acara yang sangat penting karena dapat menentukan nasib masyarakat selama lima tahun mendatang. Ah, jika memang tulisan yang kubaca itu benar dan jika Pemilu bisa mengubah kehidupanku dan keluargaku selama lima tahun mendatang menjadi lebih baik, aku ikhlas jika pemerintah mengucurkan dana sekian besar untuk perhelatan tersebut.
Dulu, aku bercita-cita menjadi seorang presiden. Aku ingin bisa mensejahterakan seluruh rakyatku. Aku ingin mengharumkan nama negeri ini ke seluruh dunia. Aku ingin memuaskan hasrat para pemuda bangsa yang haus akan pengetahuan sepertiku dengan mewujudkan sekolah-sekolah gratis di seantero negeri. Namun aku tahu, menjadi presiden bukanlah hal yang mudah. Aku harus mengenyam pendidikan sebanyak mungkin supaya aku bisa membawa bangsa ini ke arah yang benar kelak. Dan faktanya, pendidikan itu mahal. Pendidikan hanyalah konsumsi orang-orang kaya, bukan orang sepertiku yang untuk memenuhi kebutuhan makanku dan keluargaku saja sulit. Pada akhirnya aku pun menyerah pada kehidupan. Aku menyerah dan percaya pada perkataan ibuku bahwa memang mungkin hidup kaumku tak akan pernah berubah. Mimpi-mimpiku pun akhirnya menguap seiring dengan menjauhnya derap kaki para mahasiswa yang selalu berlalu lalang di hadapanku.
Oleh: Desti Maharani
Label: Tulisan Wajib Divisi Penerbitan
Diposting oleh EcopOnline di 12.50 0 komentar
Satu Episode Keluarga
Beberapa minggu yang lalu sebuah stasiun televisi swasta menayangkan satu film kartun keluaran Walt Disney yang bertemakan keluarga. Sebuah film lama memang tetapi ketika saya menontonnya untuk kesekian kali ini saya menangkap sesuatu yang menarik di film ini. Dalam film tersebut, Lilo and Stitch, digambarkan
keluarga sang tokoh utama yang sekilas terlihat tidak sempurna dibanding teman-temannya yang lain karena kedua orang tua sang tokoh utama, Lilo, dan kakaknya telah meninggal sehingga mereka hanya tinggal berdua. Mereka sangat kehilangan kedua orang tua mereka dan terkadang rasa sedih dan kesepian muncul dalam diri mereka masing-masing. Masalah mulai timbul ketika petugas pengasuhan anak akan membawa Lilo jika dianggap kakak Lilo tidak dapat mengurus Lilo dengan baik. Kakak Lilo tidak memiliki pekerjaan yang tetap sehingga hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi kondisi Lilo. Selain itu, masalah bertambah ketika Lilo diberikan kesempatan oleh kakaknya untuk memilih anjing yang ia sukai untuk dipelihara. Namun ternyata anjing yang dipilih Lilo adalah Stitch yang notabene adalah makhluk eksperimen dari luar bumi yang memang diprogram untuk menghancurkan. Pada saat itu Stitch sedang melarikan diri dari kejaran petugas keamanan luar angkasa. Selanjutnya hari-hari Lilo dan kakaknya dipenuhi oleh berbagai kejadian bersama Stitch, yang masih sering berperilaku menghancurkan, petugas pengasuhan anak, dan tentu saja para petugas keamanan luar angkasa tersebut. Setelah melewati berbagai macam konflik, Stitch dapat mengontrol perilakunya karena kesabaran Lilo dalam membantu Stitch untuk berperilaku normal. Petugas pengasuhan anak pun tidak sampai hati mengambil Lilo dari kakaknya dan tentu saja petugas keamanan luar angkasa tersebut juga tidak jadi menghancurkan Stitch karena telah melihat perubahan signifikan dalam perilakunya. Akhirnya, seperti cerita-cerita Walt Disney lainnya, mereka bertiga pun dapat hidup bersama.
Ketertarikan saya pada film ini adalah karena ada satu kalimat yang beberapa kali muncul dalam film ini dan menurut saya merupakan inti dari film ini. Keluarga, dalam film disebutkan dengan bahasa hawai, diartikan sebagai ”satu” dan ”harus selalu bersama” dalam film ini. Pengertian yang sederhana secara sekilas tetapi memiliki makna yang mendalam. ”Satu” disini berarti masing-masing anggota keluarga memiliki keterikatan satu sama lain sebagai satu kesatuan. Anggota keluarga juga memiliki rasa saling memiliki dan rasa bergantung satu sama lain. Secara nyata jika ada anggota keluarga kita yang sakit maka secara tidak langsung kita akan turut berempati. Sedangkan, ”Harus selalu bersama” dalam film ini bermakna setiap anggota keluarga harus hidup bersama tinggal dalam satu atap dan paling tidak dalam satu hari dapat bertemu muka sehingga rasa kekeluargaan yang ada bisa selalu tumbuh dan berkembang. Hal ini didukung oleh pengertian keluarga oleh Departemen Kesehatan RI ( 1988 ) yang berbunyi keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Secara nyata memang tidak selalu bisa setiap anggota keluarga selalu hidup bersama. Faktor menempuh pendidikan maupun pekerjaan merupakan salah satu contoh pisahnya seseorang dengan anggota keluarganya. Namun, pisahnya seseorang dengan anggota keluarganya secara fisik tentu saja tidak dapat langsung diartikan sebagai runtuhnya sebuah keluarga. Faktor lain seperti keterikatan batin membuat sekumpulan orang yang terpisah-pisah itu disebut sebuah keluarga.
Pengertian keluarga menurut Bailon dan Maglaya (1978) adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi dan mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Pengertian ini menggambarkan bahwa setiap orang dalam keluarga memiliki peranan tersendiri dalam kelangsungan keluarga tersebut. Sebagai contoh peran seorang ayah dalam keluarga adalah sebagai pencari nafkah dan pemberi rasa aman terhadap anggota keluarga lainnya sedangkan seorang ibu berperan sebagai pengasuh dan pendidik untuk anak-anaknya.
Namun maraknya masalah keluarga sekarang ini sungguh mengkhawatirkan. Terkadang walaupun tinggal dalam satu rumah tetapi keterikatan secara batin bisa saja hilang seperti yang terjadi akhir-akhir ini pada sebuah keluarga di Austria dimana sang ayah ternyata memiliki delapan anak dari anak perempuan kandungnya sendiri. Peranan masing-masing anggota keluarga telah dilupakan dan kadang ayah atau ibu yang merasa memiliki kekuatan lebih membuat mereka bertindak semena-mena terhadap anaknya. Anak pun pada masa sekarang bukan hanya menjadi anggota keluarga yang ”pasif” melainkan juga dapat menjadi anggota keluarga yang ”aktif” berbuat nekat terhadap ayah maupun ibunya. Padahal perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh keadaan keluarganya dan perkembangan seseorang tentu saja akan mempengaruhi perkembangan masyarakat. Jika keadaan keluarga buruk maka perilaku seseorang ketika terjun ke masyarakat bisa jadi berakibat kurang baik sehingga menurunkan kualitas masyarakat. Oleh karena itu, pengaruh keluarga bisa dibilang memiliki efek domino terhadap kehidupan lainnya. Keluarga dapat diumpamakan sebagai tiang dalam setiap sendi kehidupan. Dan demi memperbaiki kualitas hidup, kita sebagai bagian dari masyarakat dan anggota keluarga seharusnya dapat menjaga minimal keluarga kita sendiri agar kondisinya dapat mendukung pembentukan pribadi yang baik sehingga kualitas kehidupan keluarga kita membaik dan memberikan suatu efek domino positif terhadap paling tidak satu episode kehidupan lainnya.
Oleh: Ranisa Primastuti
Label: Tulisan Wajib Divisi Penerbitan
Diposting oleh EcopOnline di 12.22 0 komentar
‘Aji Mumpung’
Bak jamur di musim hujan, begitu kata yang tepat untuk melukiskan kemunculan para pendatang baru di dunia tarik suara. Khususnya para artis pemain film, pesinetron ataupun bintang iklan yang kini
Bak jamur di musim hujan, begitu kata yang tepat untuk melukiskan kemunculan para pendatang baru di dunia tarik suara. Khususnya para artis pemain film, pesinetron ataupun bintang iklan yang kini mulai merambah ke dunia barunya, dunia musik. Tak peduli bagaimana kualitas lirik dan suara yang dimiliki, tampil percaya diri dengan bermodalkan tampang dan popularitas kerap menjadi senjata andalan untuk dapat eksis dalam dunia baru mereka. Begitulah wajah dunia musik tanah air kini, suara dan lirik yang kurang berkualitas asal dapat memuaskan permintaan pasar maka tak jadi masalah. Berdalih ingin memanfaatkan kesempatan emas yang ada di depan mata, para pendatang ini tak sungkan untuk meluncurkan debut albumnya di dunia musik tanah air tanpa memedulikan kualitas lirik dan suara yang dimiliki. Akankah hal ini akan memperkeruh dunia musik atau malah memperkaya panggung musik tanah air yang selalu tunduk dengan permintaan pasar?
Sederet nama artis pemain film, pesinetron dan bintang iklan yang pindah jalur tersebut kini tak jarang terpampang di chart musik tanah air. Misalnya saja nama salah satu pendatang tersebut, Olga Syahputra, yang dari awal hingga akhir lirik lagunya hanya mencantumkan satu kalimat dan ditambah lagi dengan kualitas vokal yang kurang memadai, berhasil terpampang dalam chart musik yang juga menjadikannya sebagai presenter. Kreatif atau terkesan memaksa? Bisnis tetaplah bisnis, tengoklah pula pendatang lain yang berpenampilan menarik dan sedang naik daun, Cinta Laura. Aktris yang agak lancar melafalkan bahasa Indonesia ini pun telah dapat singgah dalam chart musik tanah air, apalagi didukung dengan produser yang telah menunjukkan taring dalam dunia produksi musik tanah air, Ahmad Dhani. Maka tak heran jika ia dapat ikut eksis dalam dunia tarik suara saat ini tanpa perlu memiliki kualitas vokal yang cukup.
Sama halnya dengan Titi Kamal, yang kini mencoba untuk mencari peruntungan di dunia tarik suara. Bermula dari sebuah peran dalam film, namun karena mendapat respon yang positif dari para penonton, why not ? Walau pada kenyataannya seringkali suara yang didendangkannya secara live di panggung agak sedikit menggangu telinga.
Agak terdengar miris, namun itulah kenyataannya. ‘Aji mumpung’ merupakan kata-kata yang mungkin tepat jika ternyata para pendatang tersebut hanya numpang lewat dan tidak dapat bertahan untuk eksis di dunia baru mereka. Karena memang sesungguhnya modal utama seorang penyanyi ialah kualitas suaranya. Jadi tak dapat dipungkiri jika ternyata kualitas suara seorang penyanyi akan menentukan usia karirnya kelak dalam dunia tarik suara. Oleh karena itu, pembuktian diri dan tanggung jawab atas kreatifitas yang telah dibuat dengan tetap berlatih dan berkarya setidaknya cukup membantu untuk dapat tetap eksis di jagad musik tanah air.
Oleh: Febri Y
Label: Tulisan Wajib Divisi Penerbitan
Diposting oleh EcopOnline di 12.14 0 komentar
Dunia Ini (Semakin) Datar
Percayakah Anda bahwa dunia ini semakin datar sehingga tidak ada lagi batasan antara satu dengan yang lainnya ? Bila seseorang mampu menggapai satu misi yang hebat maka seseorang dalam belahan dunia lain akan mampu menggapai misi yang hebat pula. Orang Amerika mampu maju dalam bidang
Percayakah Anda bahwa dunia ini semakin datar sehingga tidak ada lagi batasan antara satu dengan yang lainnya ? Bila seseorang mampu menggapai satu misi yang hebat maka seseorang dalam belahan dunia lain akan mampu menggapai misi yang hebat pula. Orang Amerika mampu maju dalam bidang teknologi komputer, sedangkan orang Eropa mampu maju dalam bidang telekomunikasi. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari satu tempat ke tempat lain karena dunia ini sudah semakin datar. Thomas Friedman menulis buku yang sangat bagus berjudul The World is Flat : Dunia ini Datar. Dalam bukunya, Thomas Friedman menyatakan bahwa ada 10 hal yang mendorong terbentuknya dunia ini semakin datar, yaitu :
1. Runtuhnya tembok Berlin pada 9 November 1989. Peristiwa ini menandai berlakunya satu aturan politik yang sama di seluruh dunia. Bahkan, Cina yang komunis telah membuka pintu lebar-lebar untuk bekerjasama dengan negara lain
2. Diluncurkannya program Netscape pada 9 Agustus 1995. Sebelum peluncuran Netscape, internet bersifat eksklusif karena hanya untuk orang-orang khusus yang menekuni bidang internet saja
3. Fenomena Outsourcing yang memungkinkan setiap orang bisa mendirikan perusahaan hanya dengan sepuluh orang saja. Mengapa bisa ? Hampir semua fungsi-fungsi perusahaan bisa di-outsource-kan. Karyawan perusahaan hanya menangani tugas-tugas inti bisnisnya sedangkan yang bukan bisnis inti bisa di-outsource-kan
4. Fenomena offshore yang memungkinkan perusahaan mendirikan pabriknya di luar negeri.Contohnya, Industri mobil Jepang mendirikan pabriknya di Thailand. Ternyata pabrik di Thailand lebih menguntungkan dan dapat memproduksi lebih murah walaupun ada biaya transportasi.
5. Opensource yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkolaborasi. Para pencinta program komputer menciptakan program komputer (misalnya LINUX) kemudian program itu diberikan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Pada saat yang sama, masyarakat dapat memperbaiki kembali dan seterusnya
6. Software yang dikerjakan dari kolaborasi para programmer yang terpisah. Misalnya, awalnya dikerjakan di Cina, bagian tengahnya dikerjakan di Nigeria dan akhirnya diselesaikan di Hawai. Semua programmer dapat bekerjasama menyelesaikan suatu program software dari lokasi yang terpisah
7. Supply Chain. Dengan supply chain yang efisien, Walmart dapat menetapkan harga barang di seluruh dunia dengan sama murahnya. Harga barang di Mesir sama murahnya dengan barang di Inggris. Masyarakat dapat menikmati barang-barang dimana saja dengan harga yang nyaris sama
8. Steroid mengacu pada alat-alat yang menempel pada manusia. Jika dulu Anda harus duduk di ruang komputer dengan mengetik surat, kini komputer dapat dibawa ke tempat tidur Anda. Atau telepon yang sekarang bisa dibawa kemana-mana dengan desain yang handy,ergonomis dan fashionable
9. Insourcing membuat proses lebih sederhana. Apabila Toshiba Anda rusak, Anda hanya tinggal membawanya ke FedEx, kemudian FedEx yang memperbaiki dan langsung dikembalikan kepada Anda. Tidak seperti dahulu dimana Anda harus mengirimkan ke agen Toshiba lewat FedEx. Setelah diperbaiki, FedEx mengambilnya dan mengirimkan kembali pada Anda. Semuanya terasa lebih mudah
10. Informing yang membuat semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi. Bila Anda mengakses internet, Anda akan merasakan cepatnya layanan Google. Search engine ini mampu menyajikan informasi apapun dari seluruh komputer di dunia ini hanya dalam waktu kurang dari 10 detik.
Bayangkanlah !!! Apa yang telah dikemukakan di atas benar-benar memiliki dampak yang signifikan terhadap dunia. Dunia ini sudah begitu datar sehingga setiap orang di belahan manapun punya kesempatan untuk maju. Semuanya berawal dari imajinasi. Imajinasi dan juga mimpi lah yang mebuat orang berani berpikir dan bertindak. Tidak selamanya orang harus berada dalam comfort zone. Seseorang harus berani keluar dari gua yang selama ini membatasinya untuk melihat dunia di luarnya yang ternyata jauh lebih menakjubkan.
Jadi pertanyaan terbesarnya adalah Apabila orang Amerika bisa mengembangkan microsoft, mengapa orang Indonesia tidak ?. Apabila orang Jepang begitu maju dengan industri motornya, mengapa orang Indonesia tidak ?. Mengapa mereka bisa, kita kok engga ya??
Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi
Inspirasi dari Buku yang berjudul The World is Flat oleh Thomas Friedman
Oleh: Luluk Aulianisa
Label: Tulisan Wajib Divisi Penerbitan
Diposting oleh EcopOnline di 12.09 0 komentar

