Kamis, 04 Juni 2009

Mengapa Aku Ada Disini?


Aku, di ruang yang hanya ada aku dan orang asing berjas putih yang setiap hari memeriksa kondisiku, seakan aku mengidap penyakit serius. Dia mengatakan padaku bahwa aku pasien barunya. Biarlah, suka-suka dia sajalah ingin berpikiran aku kenapa. Hanya satu hal yang –sejak awal keberadaanku disini—selalu aku pikirkan. Mengapa aku ada disini?
Hah! Mengapa tanggal 9 april kemarin aku tidak bisa mewujudkan mimpi indah, duduk di kursi parlemen? Padahal, segala macam cara sudah aku gunakan. Dari membagi-bagikan sembako, money politic, hingga membuat konser dangdut gratis dengan biduanitanya yang mampu mempertontonkan berbagai macam goyangan. Sepertinya aku salah. Ya, benar, aku memang salah! Harusnya, aku tidak mengemis suara dari golongan yang bodoh dan tidak loyal itu! Mereka hanya bisa menggerogoti uangku! Seharusnya ’aksiku lebih elegan’, seperti berkampanye di depan golongan intelektual. Toh mereka tidak butuh uang untuk memberikan aku sebuah kursi. Karena aku pikir, mereka hanya butuh idealisme. Idealisme yang penuh kemunafikan, yang mereka lakukan tanpa sadar atau mungkin hanya pura-pura tak sadarkan diri.
Berbicara tentang golongan intelektual, aku teringat dengan sebuah universitas yang berada di daerah pemilihanku, yaitu Kota Petir. Sudah bukan rahasia umum lagi jika universitas yang bernama Universitas Seribu Danau itu, dianggap menjadi basis sebuah proses kaderisasi partai politik yang aku usung. Partai politik bernomor urut 008 di pemilu tahun ini. Mengapa dulu aku tak menyadari bahwa mahasiswa di universitas tersebut bisa menjadi ladang suaraku? Ah, mungkin karena waktu itu otak dan pikiranku belum berpindah tempat, dari kepala ke dengkul, seperti sekarang ini. Dulu aku masih menganggap bahwa menjadikan sebuah institusi pendidikan sebagai lumbung politik kotorku adalah haram hukumnya. Tapi mengapa justru sekarang mereka yang secara sengaja mengotorkan diri dengan politik yang seperti aku jalankan?
Setelah aku selidiki, ternyata mereka lebih kotor dari yang aku kira! Mereka menjadikan berbagai organisasi kemahasiswaan mereka sendiri sebagai ’kendaraan’ yang siap digunakan, hanya karena sebuah partai politik yang mereka agung-agungkan membawa idealisme perjuangan berbasiskan salah satu agama yang eksis di kampus tersebut. Salah satu buktinya adalah keberadaan sebuah organisasi jurnalistik kampus bernama “Jabat Tangan”. Indikasi itu aku dapatkan kala berbincang dengan salah satu kader partai yang berada di kota pemilihan yang sama seperti aku. Organisasi jurnalistik yang seharusnya bertindak netral, justru sangat setia menyuarakan serangkaian kampanye terselubung.
Aku jadi teringat dengan cerita temanku yang tidak sengaja mendengar kekisruhan sebuah rapat yang sedang berlangsung di ruang organisasi eksekutif tertinggi di universitas tersebut. Oh iya, kalau tidak salah saat itu berlangsung pertemuan antara para petinggi BEM fakultas dengan petinggi BEM Universitas Seribu Danau. Temanku bercerita, jika tak salah lagi, ada dua orang ketua BEM fakultas, yaitu Ketua BEM Fakultas Oikos Nomos dan Ketua BEM Fakultas Ilmu Hitung dan Ilmu Bumi, sedang ngotot-ngototnya menginginkan adanya semacam demonstrasi. Tapi anehnya, konsep dari demonstrasinya tidak dipaparkan dalam pertemuan tersebut, melainkan ke sebuah divisi yang dinaungi oleh BEM Seribu Danau, yaitu Divisi Discussion Centre and Study of Action. Setelah dipahami maksud dari demonstrasi yang diinginkan, divisi tersebut menolaknya mentah-mentah. Mereka menganggap, demonstrasi yang diinginkan tersebut tidak memiliki tujuan penting dan justru bernuansa politis. Apalagi divisi tersebut sadar bahwa kesengajaan pelencengan tema dari setiap kegiatan demonstrasi sangat dimungkinkan. Apalagi saat itu, kondisi politik luar kampus sedang panas-panasnya dengan kegiatan kampanye terbuka. Dugaan semakin diperkuat dengan kondisi pimpinan tertinggi BEM Universitas Seribu Danau yang dicurigai terkontaminasi oleh iming-iming sebuah partai politik.
Belum lagi mempertimbangkan keberadaan sejenis lembaga pengawas pemilu di Universitas Seribu Danau yang bertugas mempublikasikan tata cara pemilu dan memfilterisasi efek negatif dari pemilu nasional di Unversitas Seribu Danau. Sepintas, lembaga tersebut terlihat sangat baik tujuannya. Pada kenyataannya program-program kerja yang dicanangkannya justru sangat kental dengan pengaruh politik luar kampus. Contohnya, mereka sengaja membuat sebuah program kerja berbentuk penerbitan media yang bertajuk “Politisi Busuk”, yang isinya mencakup track record buruk dari pemimpin-pemimpin yang notabenenya sudah pernah berkuasa. Lalu, apakah media tersebut secara sengaja moncoba mengaitkannya dengan kepentingan dari partai politik yang waktu itu aku usung? Karena faktanya, belum ada satu pun orang dari partai tersebut yang pernah duduk di kursi tertinggi republik ini. Namun, entah pada akhirnya media tersebut jadi diterbitkan atau tidak, aku tak lagi tahu.
Ironis memang, ketika aku sengaja mengunjungi kembali Universitas Seribu Danau. Baru saja aku memasuki area kampus tersebut, aku sudah disuguhkan dengan spanduk-spanduk yang ’sok heroik’ dari beberapa organisasi, forum, dan bahkan pihak humas universitas tersebut. Spanduk-spanduk tersebut berisikan suatu seruan untuk menolak berbagai bentuk aktivitas politik yang sedang merebak saat itu agar tidak masuk ke lingkungan kampus. Salah satu spanduk berisi sebuah larangan untuk perserta kampanye terbuka agar tidak memasuki area kampus. Ada juga yang berisikan tentang delapan poin yang harus diperhatikan dalam menghadapi Pemilu 2009. Belum lagi dengan spanduk sebuah forum mahasiswa yang mengisyaratkan kepada para mahasiswa agar tidak terkontaminasi dengan politik luar kampus. Tapi, entah mengapa aku justru merasakan bahwa semua spanduk-spanduk tersebut bagaikan sebuah topeng menyerupai monyet yang menutupi wajah monyet itu sendiri. Alhasil, dengan atau tanpa topeng tersebut, sang monyet akan tetap seperti monyet. Begitu juga dengan spanduk-spanduk tersebut yang hanya menjadi simbol kemunafikan. Bahwa faktanya, semua hal yang tertulis tersebut justru telah terjadi sejak lama.
Waduh! Ternyata, universitas yang selama ini menjadi kebanggaan Kota Petir tak lagi virgin dari aktivitas-aktivitas politik kotor seperti itu ya? Untung anakku tidak aku paksa kuliah disana. Selain nantinya ia menjadi lebih asyik diracuni oleh hal semacam itu dibandingkan dengan kuliahnya, biaya pendidikan di sana semakin hari semakin mahal! Apalagi anakku ini senang sekali ikut organisasi yang bernafaskan agama. Makin segan saja aku menyuruh anakku untuk mengenyam pendidikan disana. Karena kata temanku yang lainnya, hampir setiap fakultas di Universitas Seribu Danau mempunyai sebuah organisasi keagamaan yang ternyata sudah terpengaruh oleh partai politik. Kalau tidak salah, nama organisasinya adalah “Forum Belajar Agama”. Tuh kan, aku semakin khawatir apa yang aku takutkan terjadi pada anakku akan menjadi nyata andai ia benar-benar kuliah disana!
Ya sudahlah. Kenapa aku jadi berpikiran yang macam-macam? Berpikiran mengapa waktu dulu, sebelum 9 april, aku tidak begini dan begitu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Hahaha! Tak usah berpikiran yang aneh-aneh, Pak Caleg! Jelas-jelas hanya cuma jadi caleg, tidak benar-benar jadi anggota legislatif. Lebih baik berpikir saja yang jelas-jelas dari tadi sedang dipikirkan! Mengapa aku ada disini?

Oleh: Lutfian Iriana

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Dresses. Powered by Blogger