Kamis, 04 Juni 2009

Mengukur Kompetensi Mahasiswa UI Melalui PIMNAS

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-21 telah berakhir pada tanggal 18 Juli 2008. Kompetisi mahasiswa nasional terakbar tersebut berlangsung selama lima hari. Sebagai pekan lomba mahasiswa tingkat nasional, tidak salah jika PIMNAS menjadi salah satu tolok ukur prestasi dan kompetensi mahasiswa di Indonesia.Peserta yang mengikuti berbagai perlombaan di acara ini akan memperebutkan predikat juara dan medali emas, perak dan perunggu. Universitas yang memperoleh akumulasi medali terbanyak, berhak untuk memboyong piala bergilir Adikarta Kertawidya.
Keinginan UI untuk merebut piala Adikarta Kertawidya tahun ini kembali belum bisa diwujudkan karena UI tidak mampu menjadi juara umum. Walaupun demikian secara keseluruhan UI mampu meningkatkan prestasinya di ajang ini jika dibandingkan dengan PIMNAS tahun lalu. Prestasi UI dalam PIMNAS tahun ini antara lain 1 emas dan dua perunggu dari PKMP, juara 1 KKTM Pendidikan, juara 2 KKTM IPA, juara 2 AKSOSS untuk kategori desktop, juara 3 lomba debat bahasa Arab. Pada PIMNAS XXI di Universitas Negeri Lampung UI hanya meraih satu emas dari PKM, juara 1 Information and Communication Competition, Juara 2 lomba debat debat bahasa Mandarin serta beberapa perunggu. PIMNAS tahun ini, didominasi oleh universitas-universitas yang berasal dari Jawa Timur. Universitas Brawijaya menjadi juara umum dan mematahkan dominasi UGM dan IPB yang menjadi langganan juara dengan perolehan medali sebanyak 4 emas dan 3 perak. Hasil tersebut melengkapi selebrasi Unibraw karena universitas yang bersangkutan akan menjadi tuan rumah PIMNAS XXII pada tahun depan. UGM berada di peringkat 2 dengan 4 emas, 1 perak, dan lima perunggu. Pada peringkat 3, Universitas Negeri Malang meraih 3 emas. Universitas Airlangga berada di peringkat 4 dengan 2 medali emas serta 2 perak. Sedangkan peringkat 5 diraih IPB Bogor dengan 1 emas, 7 perak dan 6 perunggu.

Selama ini yang banyak diperbincangkan adalah minat mahasiswa UI dalam bidang penulisan dan penelitian. Secara personal, dari apa yang saya lihat selama mengikuti PIMNAS XX di UNILA, memang sebagai salah satu kegiatan utama, lomba karya tulis mahasiswa (LKTM) dan pekan kreativitas mahasiswa (PKM) merupakan lomba yang mempunyai gengsi paling tinggi daripada lomba-lomba lainnya. Di samping itu, kedua lomba ini merupakan lumbung medali, karena banyaknya medali yang diperebutkan. Namun, selama ini mahasiswa UI belum bisa mendominasi perlombaan tersebut. Banyak pihak yang menduga bahwa kurangnya minat mahasiswa untuk menulis adalah salah satu penyebabnya. Pada PIMNAS tahun lalu, UI hanya mampu meloloskan enam proposal untuk dua kateori lomba yaitu Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) maupun Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM). Hal ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan universitas lain seperti UGM dan IPB. Tahun lalu IPB, meloloskan lima belas proposal untuk kedua kategori lomba tersebut. Berkat keseriusan dalam kedua lomba tersebut pula, pada tahun 2005 dan 2006, IPB berhasil merebut piala Adikarta Kertawidya.
Selama ini hal-hal yang dikeluhkan menyangkut kurangnya publikasi penyelenggaraan PIMNAS di lingkungan UI. Mungkin, bila boleh berargumen bagi sebagian besar mahasiswa UI, PIMNAS merupakan kompetisi kelas dua dan kalah pamor jika dibandingkan dengan kompetisi lain, yang diselenggarakan pihak lain, perusahaan swasta misalnya. Selain itu, beberapa mahasiswa merasa bahwa pihak fakultasnya kurang memfasilitasi keikutsertaan mereka dalam PIMNAS. Dari apa yang saya amati, mungkin fakultas yang paling serius dalam meningkatkan budaya menulis dan penelitian di kalangan mahasiswanya adalah FISIP. Kurangnya fasilitasi tersebut mencakup sulitnya mendapatkan dosen pembimbing, sulitnya mendapatkan dana penelitian sampai pada kurangnya upaya untuk memberikan dukungan moral bagi mahasiswa yang tertarik melakukan penulisan dan penelitian. Jika dibandingkan dengan IPB misalnya, perguruan tinggi tersebut memberikan insentif yang menarik bagi mahasiswanya. Bagi mahasiswa yang meraih juara Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, dimana topik penelitiannya relevan dengan bidang studi mahasiswa yang bersangkutan, maka mahasiswa tersebut akan dianggap telah menyelesaikan skripsinya. Bagi mahasiswa yang menjadi juara sampai tingkat regional, dianggap lulus tiga SKS dengan nilai A. Terlebih lagi UI mempunyai tujuan untuk menjadi universitas riset pada tahun 2010, maka budaya menulis dan penelitian harus digalakkan.

Dengan upaya membudayakan ketertarikan untuk menulis dan melakukan penelitian, bukan berarti kegiatan mahasiswa di bidang lain menjadi prioritas kedua. Dukungan finansial dan non finansial yang cukup tentu harus diperhatikan oleh pihak rektorat. Mansyur Ridho (Sosiologi 2006) mengharapkan keikutsertaan UI di PIMNAS akan menuai kesuksesan dan barokah. Jonathan AP Marpaung (Ilmu Komputer 2006), berharap bahwa UI akan bisa semakin mantap mengembangkan inovasi dan kreatifitas dalam penelitian mahasiswa mengingat budaya penelitian di UI masih sangat minim. Ya, semua keluarga besar UI, mengharapkan agar UI bisa memboyong piala Adikarta Kertawidya di PIMNAS mendatang. (dari berbagai sumber)

Oleh: Muchdlir Zauhariy (Akuntansi FEUI 2006)

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Dresses. Powered by Blogger