Kamis, 04 Juni 2009

Mimpi Sang Loper Koran


Secercah cahaya mentari menembus memasuki jendela rumahku. Pagi ini cerah dan aku bersyukur karenanya. Walaupun hidupku tak secerah pagi ini namun setidaknya sang mentari masih berbaik hati karena ia bersedia memberikan hangatnya di penghujung musim hujan kali ini. Aku tidak mengeluhmeski nanti siang aku harus bermandi peluh di jalanan. Paling tidak, hari ini koran-koranku masih utuh tak basah oleh air hujan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Hari ini hidupku berjalan seperti biasanya. Aku harus bangun pagi-pagi untuk mengambil koran dari agen langgananku. Setelah itu, dengan langkah terburu-buru, akupun pergi ke sekolah dengan sejuta harapan untuk memperbaiki masa depanku. Dan ketika bel pulang sekolah berbunyi, itu adalah pertanda bahwa waktuku untuk merajut mimpi telah selesai. Kini saatnya untuk kembali ke realita dan mencari cara agar aku terus bisa merajut mimpiku setiap hari di sekolah dan mewujudkannya menjadi kenyataan.
Aku bergegas menuju tempatku menjajakan koranku seperti biasanya. Tempat itu konon katanya merupakan universitas terbaik di negeri ini. Orang-orang yang bisa mengenyam pendidikan disana tentunya adalah orang-orang memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, dan mereka berada di tempat itu untuk dididik menjadi calon-calon pemimpin bangsa berikutnya.
Aku biasa menjajakan koranku di sudut sebuah lorong di kampus tersebut. Melihat mereka berlalu lalang di sekitarku terkadang melambungkan khayalanku. Apakah suatu saat aku bisa menjadi seperti mereka? Menjadi orang-orang yang selalu membawa buku-buku setebal bata sambil memperbincangkan sesuatu yang terkesan cerdas di telingaku namun tak pernah kumengerti maksudnya hingga kini. Ingin rasanya aku menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu menyunggingkan senyum di wajahnya, entah karena merasa puas akan ilmu yang baru saja mereka dapatkan atau hanya sekedar merasa puas karena perut mereka telah terisi penuh di kantin.
Jika aku menceritakan khayalanku tersebut kepada ibuku, ibuku pun hanya tersenyum. Ia berkata bahwa negara kita sedang mengalami kesulitan dan dampak kesulitan itu pun paling berat menimpa kami, kaum marjinal yang terpinggirkan. Ibu lalu menasehatiku untuk tidak terlalu banyak menaruh harapan pada masa depanku. Menurutnya, kehidupan orang-orang seperti kami tidak akan berubah. Miskin, ya akan tetap menjadi miskin selamanya. Lebih baik aku membantu ayahku untuk bekerja membanting tulang demi mencari sesuap nasi bagi ibu dan adik-adikku daripada sibuk memikirkan hal-hal yang tak akan mungkin pernah kucapai. Asal tahu saja, kata ibuku, harga buku-buku setebal bata itu paling tidak setara dengan biaya hidup aku dan keluargaku selama tiga hari. Jadi, untuk apa aku harus mencari uang untuk hal-hal seperti itu, padahal keluargaku masih mengalami kesulitan untuk makan tiga kali sehari.
Namun, aku tidak mau menyerahkan mimpiku begitu saja kepada sang nasib. Aku ingin tetap sekolah, meski biayanya harus kutanggung sendiri dari penghasilanku berjualan koran. Aku tak habis pikir, kenapa biaya pendidikan kian lama kian mahal saja. Padahal, dulu pernah kudengar desas-desus bahwa sekolah akan menjadi gratis. Sekarang, aku memang tak dikenakan biaya sekolah bulanan seperti dulu. Tapi tetap saja aku harus membayar berbagai iuran yang mengatasnamakan uang gedung, biaya buku atau apalah itu.
Tapi sekali lagi, aku tidak pernah mengeluh. Aku senang berjualan koran untuk membiayai sekolahku. Jika sampai sore koranku tak habis terjual, terkadang aku membacanya. Memang, pengetahuanku belum memadai untuk memahami seluruh isi koran tersebut. Tapi paling tidak, aku mengerti bahwa keadaaan negeri ini tidak sesulit yang ibuku bilang. Negeri ini bisa mengucurkan dana bertriliun-triliun untuk membiayai sebuah acara yang konon mereka sebut dengan pesta demokrasi terbesar di negeri ini, yaitu Pemilu. Menurut berita yang kubaca di koran, Pemilu ini merupakan suatu acara yang sangat penting karena dapat menentukan nasib masyarakat selama lima tahun mendatang. Ah, jika memang tulisan yang kubaca itu benar dan jika Pemilu bisa mengubah kehidupanku dan keluargaku selama lima tahun mendatang menjadi lebih baik, aku ikhlas jika pemerintah mengucurkan dana sekian besar untuk perhelatan tersebut.
Dulu, aku bercita-cita menjadi seorang presiden. Aku ingin bisa mensejahterakan seluruh rakyatku. Aku ingin mengharumkan nama negeri ini ke seluruh dunia. Aku ingin memuaskan hasrat para pemuda bangsa yang haus akan pengetahuan sepertiku dengan mewujudkan sekolah-sekolah gratis di seantero negeri. Namun aku tahu, menjadi presiden bukanlah hal yang mudah. Aku harus mengenyam pendidikan sebanyak mungkin supaya aku bisa membawa bangsa ini ke arah yang benar kelak. Dan faktanya, pendidikan itu mahal. Pendidikan hanyalah konsumsi orang-orang kaya, bukan orang sepertiku yang untuk memenuhi kebutuhan makanku dan keluargaku saja sulit. Pada akhirnya aku pun menyerah pada kehidupan. Aku menyerah dan percaya pada perkataan ibuku bahwa memang mungkin hidup kaumku tak akan pernah berubah. Mimpi-mimpiku pun akhirnya menguap seiring dengan menjauhnya derap kaki para mahasiswa yang selalu berlalu lalang di hadapanku.

Oleh: Desti Maharani

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Dresses. Powered by Blogger