Kamis, 04 Juni 2009

Negara Tikus


Kisah ini terjadi di dalam sebuah negri yang rakyatnya adalah tikus. Konon negri itu memiliki wilayah yang amat luas, makanan yang berlimpah, rakyatnya makmur dan tentram. Tidak ada satupun keributan yang terjadi dalam negri itu.
Di dalam negri tersebut terdapat seekor tikus laki-laki yang cacat, ia tidak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya, bahkan untuk menggerakkan mulut dan matanya ia harus bersusah payah. Tikus ini tinggal bersama kedua orangtuanya. Pada saat itu orangtua si tikus cacat khawatir, mereka sudah tua dan bingung akan bagaimanakah hidup si tikus cacat nantinya ketika mereka sudah meninggal. Lalu akhirnya mereka berpikir untuk menikahkan anaknya. Siapa tahu istrinya dapat mengurus anak mereka yang cacat total. Kemudian mereka memasang iklan di koran untuk mencari jodoh si tikus cacat ini. Setelah menunggu sekian lama dengan penuh harapan, akhirnya datanglah satu surat balasan iklan biro jodoh. Sayangnya… harapan kedua orangtua si tikus cacat supaya anaknya dapat diurus oleh istrinya nanti sepertinya tidak bias terlaksana, karena surat tersebut berasal dari seorang tikus wanita yang juga cacat total seperti tikus laki-laki tersebut.
Berita tentang kedua tikus cacat yang akan menikah ini tersebar ke seluruh negri tikus. Setiap orang membicarakan mengenai dua tikus cacat yang akan menikah tersebut, bagaimana kedua tikus itu menjalani hidup mereka nantinya. Ada yang berpendapat seharusnya kedua tikus ini menjadi tanggungan negara, ada pula yang berpendapat sebaiknya mereka tidak dinikahkan karena dikhawatirkan akan menghasilkan anak yang cacat pula. Akhirnya berita ini pun tersebar hingga ke parlemen negri tikus karena berita ini begitu fenomenal. Karena parlemen negara tikus tidak memiliki persoalan yang berarti dalam negara yang damai ini maka tikus-tikus dalam parlemen mendiskusikan masalah mengenai kedua tikus cacat. Tikus-tikus yang menduduki parlemen negri tikus beradu pendapat mengenai pernikahan kedua tikus ini, apakah mereka menjadi tanggungan negara atau tidak. Saat itu ada dua pendapat kuat yang muncul dalam rapat dalam parlemen negri tikus. Pejabat tikus yang berasal dari partai koalisi berpendapat bahwa tikus ini sebaiknya ditanggung oleh negara, dari biaya pernikahan mereka, biaya makan, tempat tinggal, sampai pada biaya pemakaman mereka. Namun pejabat tikus dari partai oposisi, bersikeras bahwa sebaiknya kedua tikus ini tidak perlu ditanggung negara karena hanya akan memberatkan negara. Apalagi kalau nantinya kedua tikus ini menghasilkan anak yang sama cacat pula, maka biaya yang ditanggung negara akan semakin berat. Bahkan kalau perlu kedua tikus ini diasingkan saja sampai mati perlahan sehingga beban negara atas mereka hilang. Semakin lama, perdebatan semakin memanas. Tikus-tikus yang ada di parlemen terbagi ke dalam dua kubu, yaitu kubu yang setuju kedua tikus cacat tersebut ditanggung negara dan kubu yang setuju bahwa kedua tikus tersebut lebih baik dibiarkan saja tanpa harus ditanggung negara. Karena tidak bisa memutuskan yang mana dari kedua pendapat ini yang harus diambil, ketua parlemen tikus memutuskan untuk mengambil keputusan dengan cara voting. Setelah anggota parlemen mengadakan voting hasilnya adalah 50 orang setuju bahwa kedua tikus tersebut harus ditanggung oleh negara dan 10 orang setuju kedua tikus tersebut dibiarkan saja. Maka keputusan yang akan diambil oleh parlemen adalah keputusan yang pertama.
Sejak saat itu, kedua tikus cacat tadi menjadi tanggungan negara. Saat mereka menikah biaya pernikahan mereka dibayari oleh negara. Setelah kedua tikus itu menikah, mereka menghabiskan waktunya di dalam rumah yang diberi oleh negara dan diurus oleh pelayan yang disewa negara untuk membantu kedua tikus melakukan aktivitasnya seperti makan, mandi, buang air, dan lain-lain. Intinya seluruh hidup kedua tikus tadi benar-benar ditanggung oleh negara. Memang harus seperti inilah sebuah negara memperlakukan rakyatnya. Namun satu masalah muncul, kedua tikus ini tidak bisa membuat anak sendiri. Mereka berdua adalah tikus yang cacat seluruh badan, jadi bila dipikirkan dengan akal sehat tidak mungkin kedua tikus tersebut bisa membuat anak sendiri. Walaupun mereka tidak bisa membuat anak, kedua tikus itu sangat ingin memiiki anak. Untuk mengakomodasi hasrat tersebut, negara mengambil inisiatif untuk melakukan bayi tabung pada pasangan tikus cacat itu. Biaya pelaksanaan bayi tabung yang sangat mahal itu tentunya ditanggung oleh negara juga.
Setelah pembuatan bayi tabung dilakukan, akhirnya si tikus wanita pun mengandung dan melahirkan seekor bayi tikus yang syukurnya tidak mengikuti kedua orangtuanya, yaitu normal, tidak ada cacat sedikitpun. Kemudian bayi tikus ini diasuh oleh kedua orangtuanya dengan dibantu oleh pelayan yang diberikan oleh negara. Bayi itu pun semakin besar dan semakin kelihatan bahwa ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Anak kedua tikus cacat itu selalu merebut peringkat pertama dalam sekolahnya dan selalu masuk ke sekolah favorit sampai ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke luar negri. Setelah anak tikus itu menyelesaikan pendidikannya di luar negri ia kembali ke negaranya dan bekerja sebagai arsitek yang membantu negara dalam membangun jembatan, jalan raya, rumah sakit, dan lain-lain. Bahkan bangunan-bangunan hasil karyanya terkenal sampai negara lain karena ia menghasilkan bangunan yang memiliki ciri khas, bebas gempa, dan luar biasa indahnya. Secara tak disangka, anak tikus tadi telah membantu negara dalam banyak hal bahkan mengharumkan nama negara dengan karya-karyanya. Berita mengenai anak tikus yang menjadi anak berprestasi meluas dalam negri tikus. Mereka mengagumi usaha pemerintah yang telah memfasilitasi kedua tikus cacat sehingga bisa memiliki anak yang sangat berprestasi.
Berita ini pun sampai ke parlemen negara tikus. Hampir seluruh anggota parlemen memberi selamat kepada pejabat tikus dari partai koalisi yang telah memberikan keputusan yang benar. Hanya satu tikus yang tidak kelihatan, yaitu pejabat tikus dari partai oposisi. Sesaat setelah berita mengenai anak tikus berprestasi itu tersiar ke seluruh negri, ditemukan anggota parlemen yang bunuh diri. Anggota parlemen itu adalah pejabat yang berpendapat bahwa kedua tikus cacat tadi dibiarkan saja mati perlahan yaitu pejabat dari partai oposisi. Ia bunuh diri karena malu telah mengambil keputusan yang menyengsarakan rakyatnya. Memang begitulah seharusnya akhir dari pejabat yang tidak memperdulikan rakyatnya.

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Dresses. Powered by Blogger