Beberapa minggu yang lalu sebuah stasiun televisi swasta menayangkan satu film kartun keluaran Walt Disney yang bertemakan keluarga. Sebuah film lama memang tetapi ketika saya menontonnya untuk kesekian kali ini saya menangkap sesuatu yang menarik di film ini. Dalam film tersebut, Lilo and Stitch, digambarkan
keluarga sang tokoh utama yang sekilas terlihat tidak sempurna dibanding teman-temannya yang lain karena kedua orang tua sang tokoh utama, Lilo, dan kakaknya telah meninggal sehingga mereka hanya tinggal berdua. Mereka sangat kehilangan kedua orang tua mereka dan terkadang rasa sedih dan kesepian muncul dalam diri mereka masing-masing. Masalah mulai timbul ketika petugas pengasuhan anak akan membawa Lilo jika dianggap kakak Lilo tidak dapat mengurus Lilo dengan baik. Kakak Lilo tidak memiliki pekerjaan yang tetap sehingga hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi kondisi Lilo. Selain itu, masalah bertambah ketika Lilo diberikan kesempatan oleh kakaknya untuk memilih anjing yang ia sukai untuk dipelihara. Namun ternyata anjing yang dipilih Lilo adalah Stitch yang notabene adalah makhluk eksperimen dari luar bumi yang memang diprogram untuk menghancurkan. Pada saat itu Stitch sedang melarikan diri dari kejaran petugas keamanan luar angkasa. Selanjutnya hari-hari Lilo dan kakaknya dipenuhi oleh berbagai kejadian bersama Stitch, yang masih sering berperilaku menghancurkan, petugas pengasuhan anak, dan tentu saja para petugas keamanan luar angkasa tersebut. Setelah melewati berbagai macam konflik, Stitch dapat mengontrol perilakunya karena kesabaran Lilo dalam membantu Stitch untuk berperilaku normal. Petugas pengasuhan anak pun tidak sampai hati mengambil Lilo dari kakaknya dan tentu saja petugas keamanan luar angkasa tersebut juga tidak jadi menghancurkan Stitch karena telah melihat perubahan signifikan dalam perilakunya. Akhirnya, seperti cerita-cerita Walt Disney lainnya, mereka bertiga pun dapat hidup bersama.
Ketertarikan saya pada film ini adalah karena ada satu kalimat yang beberapa kali muncul dalam film ini dan menurut saya merupakan inti dari film ini. Keluarga, dalam film disebutkan dengan bahasa hawai, diartikan sebagai ”satu” dan ”harus selalu bersama” dalam film ini. Pengertian yang sederhana secara sekilas tetapi memiliki makna yang mendalam. ”Satu” disini berarti masing-masing anggota keluarga memiliki keterikatan satu sama lain sebagai satu kesatuan. Anggota keluarga juga memiliki rasa saling memiliki dan rasa bergantung satu sama lain. Secara nyata jika ada anggota keluarga kita yang sakit maka secara tidak langsung kita akan turut berempati. Sedangkan, ”Harus selalu bersama” dalam film ini bermakna setiap anggota keluarga harus hidup bersama tinggal dalam satu atap dan paling tidak dalam satu hari dapat bertemu muka sehingga rasa kekeluargaan yang ada bisa selalu tumbuh dan berkembang. Hal ini didukung oleh pengertian keluarga oleh Departemen Kesehatan RI ( 1988 ) yang berbunyi keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Secara nyata memang tidak selalu bisa setiap anggota keluarga selalu hidup bersama. Faktor menempuh pendidikan maupun pekerjaan merupakan salah satu contoh pisahnya seseorang dengan anggota keluarganya. Namun, pisahnya seseorang dengan anggota keluarganya secara fisik tentu saja tidak dapat langsung diartikan sebagai runtuhnya sebuah keluarga. Faktor lain seperti keterikatan batin membuat sekumpulan orang yang terpisah-pisah itu disebut sebuah keluarga.
Pengertian keluarga menurut Bailon dan Maglaya (1978) adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi dan mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Pengertian ini menggambarkan bahwa setiap orang dalam keluarga memiliki peranan tersendiri dalam kelangsungan keluarga tersebut. Sebagai contoh peran seorang ayah dalam keluarga adalah sebagai pencari nafkah dan pemberi rasa aman terhadap anggota keluarga lainnya sedangkan seorang ibu berperan sebagai pengasuh dan pendidik untuk anak-anaknya.
Namun maraknya masalah keluarga sekarang ini sungguh mengkhawatirkan. Terkadang walaupun tinggal dalam satu rumah tetapi keterikatan secara batin bisa saja hilang seperti yang terjadi akhir-akhir ini pada sebuah keluarga di Austria dimana sang ayah ternyata memiliki delapan anak dari anak perempuan kandungnya sendiri. Peranan masing-masing anggota keluarga telah dilupakan dan kadang ayah atau ibu yang merasa memiliki kekuatan lebih membuat mereka bertindak semena-mena terhadap anaknya. Anak pun pada masa sekarang bukan hanya menjadi anggota keluarga yang ”pasif” melainkan juga dapat menjadi anggota keluarga yang ”aktif” berbuat nekat terhadap ayah maupun ibunya. Padahal perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh keadaan keluarganya dan perkembangan seseorang tentu saja akan mempengaruhi perkembangan masyarakat. Jika keadaan keluarga buruk maka perilaku seseorang ketika terjun ke masyarakat bisa jadi berakibat kurang baik sehingga menurunkan kualitas masyarakat. Oleh karena itu, pengaruh keluarga bisa dibilang memiliki efek domino terhadap kehidupan lainnya. Keluarga dapat diumpamakan sebagai tiang dalam setiap sendi kehidupan. Dan demi memperbaiki kualitas hidup, kita sebagai bagian dari masyarakat dan anggota keluarga seharusnya dapat menjaga minimal keluarga kita sendiri agar kondisinya dapat mendukung pembentukan pribadi yang baik sehingga kualitas kehidupan keluarga kita membaik dan memberikan suatu efek domino positif terhadap paling tidak satu episode kehidupan lainnya.
Oleh: Ranisa Primastuti
Kamis, 04 Juni 2009
Satu Episode Keluarga
Label: Tulisan Wajib Divisi Penerbitan
Diposting oleh EcopOnline di 12.22
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar